Showing posts with label Seminar dan Lokakarya. Show all posts
Showing posts with label Seminar dan Lokakarya. Show all posts

17.12.20

Note : Virtual Booktalk bersama Tere Liye - Nebula dan Selena - Via Zoom dari Gramedia Tasikmalaya



Acara : Virtual Booktalk bersama Tere Liye - Nebula dan Selena
Tempat : Live zoom dari Gramedia Tasikmalaya
Waktu : Kamis, 17 Desember 2020 | pukul : 16.00 - 17.45

---

Moderator : Novera Kresnawati
Narasumber : Darwis tere Liye

-

Pemaparan Materi

Bang Tere Liye atau Darwis tere liye adalah penulis novel yang diterbitkan oleh GPU, dengan banyak judul yang terkenal : Hujan, Serial Bumi, Serial anak-anak mama, dan banyak lagi.

Moderator : Apakah Ali terinspirasi dari Hulk?

Ali ini karakter yang spesial dari ketiga utama pemeran utama. Karakter yang sudah dirancang untuk bisa berubah wujud. Tapi ada penjelasan ilmiahnya. Terinspirasi dari ikan buntal yang akan menggelembung ketika terancam.

Moderator :Apakah ada kemungkinan ily hidup kembali?

Ily adalah karakter dalam buku Bulan. Dimana dalam cerita tersebut tokoh ini meninggal. Banyak pembaca yang kecewa saat tokoh pujaannya ini meninggal dalam cerita. Dalam ceritanya ily ini berubah jadi kapsul (?). Pertanyaan yang menarik adalah jika dia hidup lagi adalah apakah dia akan menjadi tokoh protagonis atau antagonis. Itu sisi dari penulisnya. Terinspirasi dari ikan yang dorman/tidur dalam lumpur/tanah liat. Dan ketika hujan datang, maka ia akan hidup kembali.

Moderator :Kalau mau menulis apakah harus menulis cerpen dulu?

Awalnya bang tere menulis puisi dan cerita-cerita pendek. Membuat dari yang kecil-kecil, menulis cerpen lalu artikel, blog dan tahun 2005 menulis novel. Malah banyak adik-adik yang menulis buku novel. Di GPU juga ada GWP untuk belajar menabung Latihan menulis.

Moderator :Sebagian penulis yang menulis dengan kata-kata vulgar tapi

Masing-masing penulis itu khas, dengan bahasa apapun, kosakata vulgar/kasar. Dalam konteks kreativitas itu boleh saja. Tapi bang Tere liye, karena dimulai dari buku-buku anak seperti Semoga Bunda disayang Allah. Sebagian tulisan bang tere, tidak ada yang tokoh yang merokok dan berhubungan. Tapi lain dari itu yang penting produktivitas. Dan tinggal memilih mau yang mana.

Moderator : Apakah pola tiga jagoan akan muncul di buku lainnya?

Rumus karakter utama bagusnya ganjil. Polanya begitu dengan dikelilingi oleh karakter pendukung karakter lain. Next buku bang tere akan menulis tentang enam detektif tapi dengan tiga tokoh utama.

Moderator : Raib kan mamahnya, Klan Bulan. Tapi lahir di bumi. Apakah nanti ada kemungkinan bertemu ibunya?

Dalam buku Nebula dituliskan ibunya meninggal, dan berubah menjadi air tidak berwarna, disekitarnya banyak salju. Pertanyaan yang menarik adalah apakah Raib akan bertemu ayahnya? (Tazk)

Moderator :: Menulis sukses itu bakat atau Latihan?

Bang darwis tidak merasa penulis sukses. Penulis sukses adalah orang yang menulis bertahun-tahun (bisa produktif). Penulis itu dituntut menulis sepanjang masa. Bakat tanpa Latihan hanya kosong saja. Bakat itu penting, tapi Latihan lebih penting untuk menjadi penulis sukses.

Moderator :Penulis dan media social.

Kalau kita menulis novel bisa menyampaikan pesan. Tapi dia terbatas dengan dialog, ga bisa kita titipkan ceramah dan sebagainya. Bang darwis biasanya menulis kolom dengan tema isu-isu politik atau isu yang sedang ramai diperbincangkan. Bang darwis memaintenance media sosialnya.

QnA dari peserta


Alin Ruhana : bagaimana caranya bang darwis punya pemikiran tentang novel yang seseru itu? bisa jadi inspirasi juga.

Bang Darwis pernah terpesona dengan banyak karakter, genre dan cerita yang seru. Banyak-banyak mengisi kepalamu!’ itu kata penulis yang ditanya oleh bang darwis. Cara isi kepala: 1. banyak baca buku, 2. banyak bertemu dengan orang lain, Kita kadang abai dengan sekitar, padahal ada disekitar kita. 3 Banyak melakukan banyak perjalanan. Bisa ke pasar dll. Kita tidak akan menulis itu jika kita tidak mengetahui tentang itu. Itu jawaban dari pertanyaan yang pernah bang darwis tanyakan kepada penulis idolanya.

Rida Oktaviani : Gimana caranya riset biar ga bosan?

Penulis itu wajib riset. Se-imajinasi apapun harus juga riset. Seperti bagaimana menjelaskan selly mengeluarkan petir, terinspirasi belut listrik. Dan ali adalah juru bicara bang ali secara tidak langsung untuk menjelaskan banyak hal. Bang tere liye banyak membaca tentang penelitian-penelitian yang bisa menginspirasi ke novelnya. Itu adalah sumber riset yang menarik. Itu untuk novel fantasy. Lebih-lebih untuk buku fiksi. Sekarang lebih enak bisa nonton youtube untuk mencari riset. Hari ini riset jadi lebih menyenangkan.

Firman Nurdiansyah : Film Rembulan Tenggelam di Wajahmu, tidak seperti dalam bukunya.

Dalam film imajinasimu dipangkas habis. Karakter sudah dijelaskan langsung oleh gambar. Pointnya : kenapa dibuat film, karena supaya cerita tersebut bisa menjangkau kepada banyak orang. Medianya berubah, akan banyak yang menyentuhnya. Apabila ada yang bertanya siapa itu tere liye? Tapi mereka tahu film seperti Hafalan Shalat Delisa.

Misnawati : seorang akuntan public kok bisa jadi penulis?

Menulis adalah kemampuan dasar yang dimiliki semua orang. Yang membedakannya adalah bang tere melatihnya sejak kecil. Ia menemukan tips-tips secara ilmiah bagaimana menulis cerita yang baik. Kalau mau jadi penulis buku, mulailah menulis.

Faikaa : Pencapaian yang belum dicapai bang tere?

Obsesi bang darwis adalah melahirkan penulis-penulis berikutnya yang jauh lebih produktif darinya. Dengan cara mengadakan roadshow, bertemu anak-anak. Next project aka nada pendampingan sepuluh anak untuk belajar menulis.

Putri Fasya : bang tere suka buku apa?

Di Usia muda bang tere suka membaca buku-buku klasik mahabarata, wiro sableng, dll. Kita tidak harus punya kesukaan pada satu genre. Bang tere malah hatam buku biografi. Suka pula membaca dari koran bekas gorengan.

Angga Suanda – Saran : Bagaimana kalau orang tuanya ali/raib pergi ke dunia paralel? – kenapa di buku bang tere setiap babnya hanya diberi nomor. Seperti dalam buku rembulan tenggelam di wajahmu.

Terbitan yang baru akan dirubah, tidak hanya penomoran dalam bab. Memang lebih enak dan lebih cepat.

Rika Marlia : Di novel serial bumi, apakah ada setting tentang gambaran sumsel? Dan bagaimana membuat karakter

Tidak ada secara implisit eksplisit mengenai sumsel. Ada juga dalam buku serial anak-anak mama. Karakter itu bisa diciptakan tapi ceritakanlah secara utuh. Ga cukup hanya disebut ‘Lumpuh itu orang jahat’. Tapi ceritakannya ‘Lumpuh mencengkram leher ali, sehingga Ali tidak bisa menggunakan kekuatannya.’ Buatlah background cerita yang berbicara. Itu cara mengembangkan karakter.

Lintangkaj : Genre romantic bang tere?

Hello adalah naskah roman bang tere, yang segera lahir, dibuat sedemikian rupa yang membuat pembaca meleleh. Dan kenapa cerita dibuat film banyak adegan yang dipotong? Itu masalah durasi menurut ka Novera Kresnawati, menambahkan.

Ruth Karyoko : punya konsep menulis, tapi dimulai dari mana? Setting latar, karakter.

Disiplinnya adalah menentukan ceritanya seperti apa, ada di kepala, tokohnya. Riset ceritanya, untuk kebutuhan. Setelah matang baru ditulis. Tapi ada banyak penulis lain yang menulis secara mengalir.

Azminatul Alfay Rohmah : Bagaimana cara menciptakan kekhasan bahasa.

Kekhasan gaya bahasa, tulisan, dialog diperoleh dari Latihan. Contohnya koki yang berlatih sejak 20 tahun dan koki baru semalam. Bagaimana cara Menyusun bumbu, garam, tingkat kematangan. Gaya khas penulis secara otodidak berdasarkan

Agus Sutisna : Bang, kalau menerbitkan buku di penerbit indie/lokal bagaimana? Dan bagaimana caranya novel/buku kita laku? – apakah dilihat dari penerbitnya/penulisnya/ceritanya?

Penerbit mayor itu diurus oleh editor, layout, distributor professional tapi tidak fleksibel, tapi penerbit indie itu fleksibel. Dulu serial supernova-nya Dewi Lestari diterbitkan indie. Bagaimanapun isi cerita yang lebih penting.

Moderator : Situasi saat pandemi seperti ini, toko buku tutup bagaimana masa depan literasi?

Bang darwis menulis buku sejak 2015. Mengikuti literasi sejak SMA. Tantangan : bajakan. Bang tere itu penulis. Penulis bisa terus menulis. kalau diam mau menulis. kalau tidak kertas maka ia akan menulis di dinding-dinding. Dalam dunia industri literasi : jangan beli bajakan. Lebih baik pinjam kalau tidak ada uang. Install ipusnas. itu adalah cara menyelamatkan industri literasi.

Semoga bermanfaat, mohon koreksi dan silahkan dibagikan.

--

Notulen : Agus Sutisna

12.12.20

Notes : Puncak Perayaan Baca Bareng Edisi November 2020

Kegiatan ini dilaksanakan kerjasama antara Moco Academy by Aksaramaya - Ipusnas - Kompas Gramedia - Tikomdik Jabar - PhiRadio - Buku Kompas - Penerbit Kompas - Readathon.id


Tempat : kelas.mocoacademy.id
Tanggal : Sabtu, 12 Desember 2020
Waktu : 14.00 - 16.00
Pemateri : Putu Fajar Arcana
--

  1. Menulis bukan karena tuntutan. Tapi sebuah pilihan. Sehingga penulis bisa memenuhi kebutuhan hidup.
  2. Eksekusi dengan menulis. Latihan 1 hari 1 lembar bisa jadi pilihan.
  3. Jangan pernah menggapai sesuatu yang jauh ketika menulis mulailah dari sesuatu yang dekat dengan kita, karena kita tahu masalahnya.
  4. Writer block bisa diatasi oleh outline dan Deadline.
  5. Writer block juga bisa diatasi dengan selalu memiliki tabungan ide, bisa menulis di laptop atau buku kecil. Supaya setiap kejadian tidak hilang. yang penting tulis/catat kata kuncinya.
  6. Kirim saja naskah kalau ingin tahu reaksi penerbit/pembaca. Kalau bisa yang ada editornya supaya mendapat kepuasan tersendiri manakala naskah kita melalui kurasi dan berhasil/gagal.
  7. Jaminan lolos sekali tidak menjamin lolos selanjutnya, tergantung kualitas kita. Perlu kesabaran, ketekunan, strategi dalam mengolah cerpen dan termasuk faktor rezeki.
  8. Strategi mengirim naskah mingguan, kita bisa kirim per bulan.
  9. Biasanya redaktur akan melirik cerpen dari cerpenis baru dari tiga cerpen pertama mereka. apakah ada perkembangan atau tidak. untuk mengecek apakah karyanya original atau tidak. so, anak-anak muda yang sekarang baru ngirim sekali masih ada harapan terus mengirim sampai dilirik oleh editor.
  10. Apapun bentuk tulisannya, apalagi non fiksi. riset adalah sebuah habit yang baik untuk membuat tulisan. Mengambil dari ilmu jurnalistik. diambil dari Data dan Fakta. Contoh penulisan tentang Covid.
  11. Seenggak-enggaknya Fiksi itu bisa memberi perubahan jika dibuat dengan mengedepankan riset dari data dan fakta. Sehingga bukan hanya hiburan tapi bermanfaat. dibanding novel-novel yang hanya berdasarkan khayalan. Itu Kekuatan riset sebagai basis dalam membuat tulisan.
  12. Riset ini adalah keterampilan yang bisa dipelajari. tidak ada urusan dengan bakat, bakat itu hanya tambahan.
  13. Seorang pembaca yang antusias pasti bisa menulis. Tinggal menunggu momentum aja. karena momentum bisa diciptakan dengan kemauan. 'ah, kita sudah banyak membaca buku. ini saatnya kita menuliskan untuk disampaikan kembali kepada orang lain'.
  14. Keterampilan bisa diasah dengan apa yang paling dekat dengan diri sendiri, dengan segala persoalannya lalu bikin referensi sehingga orang lain merasa bahwa cerita itu milik dia sendiri. Kunang-kunang di langit Manhattan - adalah cerpen berdasarkan pengalaman sendiri. Dan dengan mempelajari referensi sehingga dapat dinikmati orang lain sebagai pengalamannya sendiri.
  15. Seorang penulis harus mendapatkan karakter/ciri/stylenya sendiri. apa yang mempengaruhi style tersebut? - Pont ini belum sempat ditulis karena gangguan sinyal. Padahal sangat penasaran apa yang menjadikan para penulis seperti Dewi 'Dee' Lestari, Ayu Utami,dll memiliki style tersebut.
  16. Kesimpulan : Menulis adalah berbagi kepada orang lain. Pekerjaan menulis bukan pekerjaan yang sia-sia. Ini pekerjaan yang terhormat.

----------------------------
Pencatat : Agus Sutisna


Berikut dokumentasinya :




18.2.20

Notes Pelatihan Public Speaking : Komunikasi Efektif dengan Mengendalikan Gugup di Depan Umum


Mitos : “Kemampuan berbicara di depan umum karena bakat”
Fakta :  "Kemampuan berbicara di depan umum berkembang karena latihan dan praktek"

Kalau begitu, apa sebenarnya yang menghalangi kita untuk berlatih dan praktek? Yup! Penyebab aslinya “rasa gugup” akibat “rasa takut”.

Pertanyaan paling banyak kerap keluar dari para peserta pelatihan Public Speaking adalah "Bagaimana caranya mengatasi grogi, rasa deg-degan dan kaki gemetar ketika berbicara di depan umum?"

Grogi sepertinya hal wajar ya melanda seseorang yang akan berbicara di depan umum, kadang karena ingin tampil maksimal sesuai latihan malah menambah rasa grogi. Kebayang mungkin ia akan salah ucap sehingga ditertawakan orang lain. Atau lupa materi ketika asik berbicara di depan umum, padahal itu semua belum terjadi. Hanya saja segala kemungkinan terbayang dalam ingatan. Kalau dia bermental lemah ia akan mengundurkan diri.

Saya pernah membaca beberapa biografi tentang tokoh-tokoh yang jago orasi, retorika dan biasa berbicara di depan umum bahwa rasa grogi adalah rasa yang sering datang berulang, dan justru karena rasa grogi itu membuatnya menjadi sadar apa yang harus ia lakukan. Sehingga dia akan lebih fokus dalam menyampaikan materi.

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, GROGI berarti merasa canggung atau takut berhadapan dengan orang banyak.  Sementara NERVOUS atau GUGUP adalah berbuat atau berkata dalam keadaan tidak tenang; gagap; sangat tergesa-gesa; bingung. Apapun padanan katanya, hal tersebut selalu menjadi momok menakutkan manakala berlatih berbicara di depan umum. Istilah yang tepat untuk menggambarkan seseorang yang 'kikuk' saat tampil di depan umum adalah demam panggung, beberapa gejala dari  'demam panggung' :

1. Detak jantung semakin cepat


Ada sensasi mengerikan ketika nama kita dipanggil, atau kita berada dalam urutan tampil. Berbagai hapalan teks materi dan rapalan jampi-jampi supaya tetap tenang akan dilakukan. Berbeda senasinya jika kita hanya sebagai penonton saja. Seorang penampil dituntut untuk sempurna, mungkin ini yang menyebabkan 'penampil' seolah diburu kesempurnaan.


2. Lutut bergetar


Entah lutut yang kanan, atau yang kiri, Mungkin dua-duanya. Seluruh sendi yang menopang kita berdiri seolah mengalah manakala kita berada di depan orang lain. Sekuat apapun kita berusaha untuk menenangkan diri, tapi kontrol lutut seolah bergetar sendiri. Dan itu sangat memalukan ketika kita sedang diperhatikan.

3. Berkeringat


Tiap orang berbeda dalam hal ini, keringat merupakan air yang keluar manakala suhu tubuh meningkat. Ada yang berkeringat di telapak tangan, dahi, hidung dan sebagainya. Dan hal yang tidak wajar adalah manakala keringat kita bercucuran. Sehingga nampak kita sedang gelisah, membawa banyak tisu untuk meredaka ketegangan.

4. Suara bergetar


Kondisi lutut yang bergetar, atau tangan yang bergetar bisa kita minimalisir dengan mencubitnya atau bersender pada benda sekitar. Seperti meja atau apapun benda untuk bersandar. (menyender). Tapi bagaimana kalau suara kita yang bergetar? bukan karena sengaja atau teknik, tapi pita suara tidak terkendali. Sangat malu ketika kita berbicara atau tampil menggunakan pengeras suara (microphone).


5. Pusing


Kondisi ini sangat tidak ditolerir ketika kita akan tampil tapi kepala kita menahan sakit.atau pusing. Keringat tidak henti-hentinya mengucur. Tenggorokan kering kekurangan air (dehidrasi), dan diperparah dengan hapalan teks materi yang belum kita kuasai. Terkadang kita seperti seekor ikan yang sengaja disuruh keluar kolam? Ini bukan zona nyaman! ya jelas untuk tampil di depan umum, terlebih bagi 'Pemula' itu sungguh kiamat besar.


6. Kejang perut/mual


Bolak-balik ke belakang, entah karena kedinginan atau suhu tubuh yang tidak normal. Perputaran di area lambung dan salurannya membuat kita tidak enak duduk, tidak betah berdiri. Gelisah dibuatnya. Ingin rebahan tapi materi belum hafal.


7. Sakit punggung


Rata-rata semua organ kita terganggu ya manakala kita akan 'naik panggung'. Entah bagaimana jadinya ketika kita memaksakan diri dengan kondisi yang luar biasa mengerika ini. Hehe .. Jelas ya jika mau tampil cari posisi nyaman untuk istirahat, latihan dan persiapan. Tubuh kita perlu beradaptasi dengan hal-hal yang belum pernah kita lakukan.


8. Mata berair


Gejala-gejalanya amat menghawatirkan ya, kebayang ga saat kita lagi presentasi atau berbicara di depan umum, tapi pandangan kita seolah kabur, karena selaput korena kita terisi air? Bukan sedang menangis tapi seolah ada kabut tebal yang membuat kita mengibaskan tangan kita ke mata. Atau Sesuatu yang membuat kita gatal ingin mengucek mata. Entah respon tubuh karena sedang beradaptasi atau lensa mata kita perlu perhatian lebih untuk lebih fokus karena melihat orang banyak. (menenal dan menipis).


9. Amnesia


Ini gejala yang amat fatal ya. Hahaha .. Ketika dalam urutan tampil kita malah lupa tempatnya, lupa materi, lupa dimana menyimpan catatan (note), lupa kalau hari ini ada acara di luar, lupa kalau kita sedang berbicara di depan umum. Atau barangkali kita lupa siapa nama kita 'Ari urang saha?' Apapapun itu kondisi otak sedang dalam tahap beku, perlu pendinginan dan ketenangan. Plis, jangan dulu buka mulut kalau kondisi badan kita belum siap. Jangan sampai kamu ada dalam tahap 'lupa' ini atau yang kesepuluh ini. 'Pingsan!'


10. Pingsan


Merepotkan ya kalau kamu sedang berada dalam tahap ini. Nervous yang teramat sangat! - Kondisi tubuh tidak bisa dikendalikan, pikiran, perkataan sudah tidak normal. Stak! kita ambruk di tempat. Pernah melihat fenomena seperti ini kan? Semoga kita tidak mengalaminya.


Lalu bagaimana cara mengatasinya? - sebuah pepatah yang tertera dalam spanduk rumah sakit adalah 'Setiap Penyakit ada Obatnya!'. betul sekali, untuk mengatasi Nervous/Grogi kita harus tahu dulu apa sebabnya. Kenapa kita suka bergetar lututnya saat berbicara di depan umum, kenapa kita ini, kenapa kita begitu. Ulasannya masih panjang, besok kita lanjutkan tentang  'Penyebab Nervous dan Solusinya'.

-
Terima kasih sudah membaca sampai akhir, semoga tidak puas dalam mencari ilmu sebanyak-banyaknya. Jika butuh konsultasi bisa ke web ini Pustaka Besar

--
Tasikmalaya, 18 Februari 2020
Penulis : Agus Sutisna

---
Referensi :
Pelatihan Public Speaking, Sekolah Komunikasi Miracle. Tasikmalaya
Thank's to ibu Lucy Dian Rosalin, bapak Andi Gumilar, dan semua Crew Sekolah Komunikasi yang paling keren!!

10.2.20

Notes Seminar Pendidikan: Psikologi Anak dan Aplikasinya dalam Pembelajaran melalui Permainan Edukatif dan Inovatif



Sebuah awal yang menggetarkan siapapun yang mendengarnya. Iringan lagu pembuka seminar yang sangat menyentuh, khususnya kami yang mendedikasikan hidup kami untuk pendidikan anak. Sebuah lagu dengan judul terima kasih guruku. ‘Pagiku cerahku ... Matahari bersinar ... Ku gendong tas merahku ... Di pundak.’

Tim trainer dari SPA Indonesia, Yogyakarta. Tim yang sudah berpengalaman melatih guru-guru di nusantara. Kak Muksin panggilannya. Jika mau berkenalan dengannya bisa berteman di facebook dengan alamat emailnya muhsin_anwar@yahoo.co.id . Ada sekitar 200 peserta dari guru-guru PAUD di kab. Ciamis dan luar kab. Ciamis.

Ternyata kak Muksin ini asli orang Ciamis, tepatnya lahir di Dewasari. Sejak SD sampai SMA ia sekolah di tanah kelahirannya dan sejak kuliah hingga berkeluarga tinggal di Yogyakarta. “Tepatnya di pinggir candi Prambanan.” Katanya. “Kalau sedang berkunjung ke sana mampirlah dulu!”

Sebuah lagu gubahan berjudul kupu-kupu menjadi awal perkenalan kami. Sejauh yang kupantau ternyata guru-guru PAUD cepat menangkap hapalan berbagai nyanyian dan tepuk-tepukan. Mungkin saking semangatnya mereka ingin menularkan tepuk baru atau gubahan lagu baru ini kepada anak didiknya di sekolah masing-masing.

Penilik dari UPTD kec. Ciamis datang dengan memberi semangat juang pada para peserta. “Semoga kita diniatkan tholabul ilmi.” Katanya. “Guru PAUD dibayar tanpa pamrih. Belum ada perhatian dari pemerintah atas kesejahteraan guru-guru PAUD.” Tambahnya. “Guru PAUD jika dimisalkan menanam padi di sawah, ibaratnya sedang menyiapkan lahan. Disiangi rumputnya, dialiri air lahannya dan dirapikan lahannya. Barulah tandurnya saat masuk sekolah dasar.”

“Maka disinilah penguatan karakter awal generasi mendatang!”

Kabupaten Ciamis belum ada perhatian mengenai kesejateraan guru PAUD. Guru PAUD hanya dibayar dengan “sajuta”. Sabar, jujur dan tawakal. Bahkan ada yang lima puluh ribu per tiga bulan. Bayangkan pertiga bulan! “Secara manusiawi ini diluar logika!” ucapnya. “Meski memang rezeki datang dari Tuhan. Dan semoga hadirnya Kak Muksin disini dapat menguatkan dan memberi semangat juang padi kami guru-guru.” Nasihat Pak Penilik UPTD kec. Ciamis.

Dalam pelatihan ini para guru diajari dan diarahkan untuk fokus, keep smile! dan bersemangat. Apa sih fungsinya mempelajari psikologi anak? Pelatihan psikologi anak atau aspek-aspek tentang jiwa anak sangat penting bagi seorang guru. Setiap hari guru bertemu dengan anak didik. “Maka apa yang dihadapan kita itu yang harus kita kenali pribadinya.”

“Tidak semua niat baik berhasil dengan baik!” Maka oleh karena itu ada tekniknya. Ada sebuah perumpamaan cerita mengenai akibat yang buruk dari cara yang keliru. Setiap hari anak yang di kelasnya terbilang pandai, di rumah ia sering dijejali pepatah orang tua agar rajin belajar. Hampir setiap hari anak diomeli agar cepat-cepat mengerjakan PR, belajar dan membaca buku. Karena salah dalam cara tersebut, sekarang anak yang tadinya pandai itu berangsur-angusr jadi malas, tidak percaya diri dan sulit menyampaikan pendapat.

“Maka dari itu untuk ibu atau ayah di rumah jangan terlalu over protektif, memaksa dan tidak menghargai anak. Akibatnya akan ketahuan saat ia sudah dewasa.”

Mengapa kita harus mengenal karakter atau sifat seorang anak?

Masa kanak-kanak adalah masa yang paling membahagiakan. Hanya kadang kita lupa bagaimana rasa yang sebenarnya. Saat kita melihat anak kecil berisik kita memarahainya. Saat kita mengajar di kelas tak ada yang memperhatikan. Kesal kita dibuatnya. Saat tak ada yang sama sekali menjawab pertanyaan kita. Jengkel kita rasanya. Berisik. Banyak berulah. Tidak bisa diam di tempat. Kata pemateri mereka sedang thawaf (berkeliling), Sa’i (berpindah-pindah) dan melempar jumrah.

Saat kita kesal ingin sekali meluruskan akhlaknya. Kita tidak sadar jika dulu kita begitu. Malah mungkin lebih dari sekedar thawaf, sai atau melempar jumrah. Kita baru tahu bagaimana susahnya jadi seorang yang dewasa atau menjadi seorang guru. Mungkin dulu guru-guru kita, mentor-mentor kita, ustad-ustadzah kita menilai seperti ini. Tidak jauh beda.

Pentingnya kita mempelajari karakter atau psikologi anak.

Pertama. Agar kita tahu ciri-ciri khas dari seroang anak. Ibarat seorang dokter yang akan memberi obat. Maka ia dengan prosedurnya akan mengenali penyakit pasien dan gejala-gejalanya. Jangan sampai dokter melakukan malapraktek. Kalau dokter keliru memberi vaksin atau obat mungkin gejalanya akan terasa beberapa saat lagi atau jika daya tubuhnya masih kuat bisa terlihat beberapa hari ba’da operasi. Tetapi kalau guru salah mendidik karena tidak tahu karakter anak. Bagaimana perlakuan terhadap satu anak dan anak yang lain. Maka efeknya akan bertahan seumur hidup. Terekam kuat di otak. Terkristalkan dalam pergaulannya di masa depan. maka berhati-hatilah berinteraksi degan anak-anak.

Kedua. Agar kita dapat membimbing anak sesuai perkembangannya. Misalkan penempatan mengajari membaca dan menghitung saat usia dini. Sebagian pendapat ada yang mengatakan agar anak tidak terlalu dibebani oleh angka dan kata saat usia dini. Hanya untuk pengenalan saja. Masalahnya tidak pada anak-anak, orang tua mengininkan anak di bawah usia sekolah dasar supaya bisa membaca dan menulis. Mereka takut jika saat sekolah dasar nanti anak mereka ketinggalan nilai bahkan tidak naik kelas. Yang khawatir justru orang tua. “Plis, Anak-anak tidak usah dibebani!” Hingga akhirnya anaklah yang jadi korban ambisi orang tuanya.  “Memang tidak mudah menemani anak belajar.”

Ketiga agar dapat mengoptimalkan potensi anak. Kelebihannya dan keurangannya. Dosa jika kita tidak mendidik mereka. masing-masing anak punya potensinya masing-masing. Kak Muksin salah satu trainer menyesalkan atas kesepakatan diumumkannya juara-juara kelas dari peringkat satu sampai tiga saja. Tidak adil anak dibiarkan sendiri tanpa ia membanggakan diri dengan potensi terpendamnya. Jangan sampai ada yang mengatakan anak yang tidak bisa matematika itu bodoh. Mungkin potensinya ada di bahasa, atau mungkin ia berpotensi di olahraga. Jelas, masing-masing anak diarahkan untuk mencapai posisinya.

Keempat agar kita bijaksana dalam memperlakukan mereka. mungkin saat di kelas kita melihat ada anak yang sering cemberut, murung dan tak bersemangat. Jika kita jadi mereka dan proses pendewasaan terjadi seperti usia kita mungkin ia akan berkata. “Aku punya masalah, bu!”
Contoh cerita di kelas ada anak yang diam saja tak seperti yang lain. 

Contoh Cerita Kasus 1 :

“Apa kau sakit?” Ibu guru mendekati anak yang diam di antara teman-teman lainnya yang bermain. Wajahnya lesu tidak bergairah. Terdorong hasrat ingin memberi nasehat, ibu guru mendekati dan mengelus-elus punggunnya. “Sakit apa nak?”

“Tidak, Bu!”

“Apa kau mau main dengan ibu?” Ibu guru inisiatif mengambil boneka tangan dan menggoyang-goyangkannya.

“Tidak, Bu!”

“Kamu kenapa diam membisu, tidak seperti kawan-kawan yang lain?” kaca mata bu guru di geser ke atas, karena turun mendekati hidung yang lumayan pendek.

“Saya punya masalah, Bu!” jawab anak itu lemas menatap ibu guru dengan mata yang sendu.

“Sama ibu juga punya masalah, tos dulu ah!” Lalu mereka berdua saling beradu tangan tanda senasib seperasaan.

Punya masalah? Anak kecil koq sudah punya masalah? Nah lho. Jika anak bisa berbicara gaya orang dewasa mungkin akan mendapati hal seperti itu. Atau seperti ini.

Contoh Cerita Kasus 2 :

“Coba siapa tahu rasanya gula?” Ibu guru memberi pertanyaan sederhana, ia menatap semua mata anak-anak di depannya. Ibu guru sengaja mengacungkan tangannya, berharap ada yang mengikuti gerakannya. Semua mengacunhkan jarinya antusias. Ibu guru senang. Tapi lagi-lagi anak itu diam. Bu guru mendekati anak itu, pelan-pelan ia berbisik. “Coba siapa tahu rasanya gula?”

Anak itu menggeleng. Ah, mungkin ia tidak tahu. Ia coba lagi dengan pertanyaan lain yang lebih sederhana, tentunya kalua ada gula pasti ada garam. ‘Pasti mudah dong menjawabnya.’ Pikir ibu guru. Raut wajah ibu guru sumringah, senyum-senyum sendiri.

“Coba siapa tahu rasanya garam?”

Anak itu menggelang lagi. Habis upaya ibu gurunya, ia beralih kepada teman-teamannya yang lain, yang lebih antusias. Tanpa disadari ibu guru, terlihat di depan pintu kelas kakaknya memperhatikan. Kakak melihat sang adik ditanya bu guru hanya menggelang saja. Padahal ia anak yang pandai.

Saat pulang sekolah sang kakak bertanya pada adiknya.

“Apa kau tidak tahu bagaimana rasanya gula?” selidik kakaknya penasaran.

“Tahu?”

“Lalu kenapa tidak menjawab tadi?”

“Aduh, kakak aku tuh lagi pusing.. Kenapa ayah dan ibu bertengkar melulu ya?”

Ini hanya misalkan. Tapi jika anak bisa bicara dengan bahasa orang dewasa hal ini mungkin akan terjadi. Mungkin pernah ada anak yang bilang tidak mau belajar dengan guru itu! tidak mau belajar sama guru ini. Kenapa seperti itu? Itu karena cara pembelajarannya berbeda. Dan anak berkomunikasi dengan gayanya sendiri. Setiap anak itu unik dan untuk mendekatinya perlu mengenalinya terlebih dahulu.

Macam-Macam Karakter Anak

Oke. Setelah kita mengetahui alasan kuat mengapa kita harus mempelajarinya. Maka inilah karkter anak.

1. Motorik (Banyak bergerak)
“Anak yang cenderum diam justru bermasalah.” Saya kaget mendengar kalimat ini. Sebelum tahu hal ini saya selalu jengkel saat anak-anak tidak mau diam di tempat. Disuruh ini tidak mau, disuruh begini susah melulu. Kadang ia berlarian dan menyikut anak lain, sehingga menimbulkan tangisan salah satunya. Faktanya memang begitu anak justru banyak bergerak itu lebih baik. Maka menjadi wajar mana kala anak tidak bisa diam di tempat terlalu lama, tidak kenal lelah dan capai. Maka untuk mendidik mereka dengan cara melibatkan mereka pada aktifitas motoriknya. Buat mereka merasa nyaman. Maka guru-guru PAUD sering menggunakan banyak gerakan dan jenis tepukan.

2. Berpikir
Anak belum bisa berpikir yang abstrak. Mereka berpikir yang nyata. Kongkrit. Maka gunakan media atau alat media untuk membantu anak dalam berpikir dan menangkap pelajaran. Dunia anak adalah dunia konkrit.

3. Ingin selalu tahu dan berkreasi atau penasaran.
Jangan matikan rasa ingin tahu anak dengan mengabaikan pertanyaan mereka. Berikan permainan yang menantang rasa penasaran mereka, bisa dari SAINS atau apa saja. “Perbanyak melakukan penelitian, pengamatan dan pertunjukan agar anak-anak terangsang motorik.”

4. Emosinya masih labil. (mudah berubah)
Setelah anak bertengkar dalam sepuluh menit mereka langsung berbaikan bersalaman dan bermain bersama lagi. Kak Muskin memberikan cara untuk melerai anak yang sedang bertengkar. “Jangan berdiri! Mereka akan saling menyalahkan. Maka posisi yang benar adalah duduk sesuaikan dengan tubuh anak, dan nada suara kita pastikan di bawah nada mereka.”

5. Suka bermain.
Dunia anak adalah dunia bermain. Anak mampu mempelajari berbagai hal dari cara mereka bermain, bersoialisasi, bahasa dan rasa percaya diri.

“Maka pandai-pandailah guru membuat game edukatif!”

Macam-macam bermain:
a. Bermain indoor/outdoor
b. Bermain dengan alat dan tanpa alat
c. Secara individu atau kelompok. 
d. Aktif dan pasif. Aktif adalah anak ikut bermain, pasif anak tidak ikut dalam permainan diantaranya menonton. Bermain adalah aktifitas yang membuat perasaan happy (menyenangkan). Dan bemain pasif itu tidak baik. Anak menonton televisi itu berbahaya. Membuat susah konsentrasi dan susah menangkap pelajaran.


6. Setiap anak itu unik. 
Carilah kelebihan setiap anak. Dimunculkan sehingga ia bisa berdiri di atas potensinya. Jika ada 30 anak maka buatlah 30 prestasi. Tapi kita lebih mudah melihat kekurangan daripada kelebihan mereka, kan? Intinya cari agar semua anak mempunyai prestasinya. Agar tidak ada yang minder. Terlalu dini jika anak dibebankan dengan persaingan. 

Contoh perintah yang mengandung karakter pendidikan karakter. “Yang tadi pagi menyalakan lampu kelas boleh pulang duluan?”

7. Mudah meniru/ imitasi. 
Di sekolah orang yang paling dipercaya adalah guru. Guru adalah orang yang paling mereka percayai daripada orang tua. Maka berhati-hatilah jika berperilaku dekat anak-anak. Karena perbuatan lebih besar pengaruhnya daripada ucapan. 

8. Masih tergantung pada orang lain.
Orang dewasa. Belum mandiri. Anak sering laporan. “Bu guru, si anu suka mencontek!” 

9. Anak berkembang melalui proses belajar. 
Mendidik anak bukan seprti memasak mie instan. “Sabar dalam mendidik anak, sabar yang tidak ada batasnya.” Tugas kita menyiapkan lahan/pondasi yang kuat bagi anak-anak kita.

10. Suka bergaul dengan teman sebaya. 
Maka untuk mengubah seorang anak ubahlah kawan-kawannya. Cukup belajarlah mencintai anak-anak!

Nah, semoga bisa dipahami ya. Materi ini bisa dibaca oleh semua kalangan, tidak teruntuk guru PAUD tapi juga Orang Tua. Akhirnya saya ucapkan Terima kasih kepada PAUD Kober Al-Istiqomah  Cantigi, Desa Kujang Kec. Cikoneng, Kab. Ciamis  yang mengajak penulis untuk ikut seminat keren ini.

-
Sabtu, 19 Januari, 2013, Sejahtera Plaza Ciamis.
Penulis : Agus Sutisna
Designed by rawpixel.com / Freepik

6.2.20

Notes Seminar Kewirausahaan : “Mencapai Sukses Kehidupan” bersama Ir. H. Aburizal Bakrie


“Tidak banyak tokoh nasional yang melihat langsung potensi daerahnya (khususnya Kab Ciamis).” Rektor Unigal menyambut kedatangan bapak Ir. H. Aburizal Bakrie.

Seminar kewirausahaan ini dimulai dengan pemberian laptop kepada mahasiswa berprestasi di enam fakultas serta pemberian novel “Anak Sejuta Bintang” pada mahasiswa Unigal yang diwakili oleh BEM dan DPM. “Dari awal saya sangat bergembira bertemu dengan adik-adik mahasiswa.”

“Jangan pernah melupakan Indonesia!” kalimatnya membakar kami semua yang berada di aula.

“Selalu saja ada jatuh bangun!” Begitu beliau memulai fokusnya sesaat setelah bertanya pada kami. “Siapa disini yang ingin jadi polisi?” Kulihat tidak ada yang mengangkat tangannya. “Siapa disini yang ingin jadi dosen?” Kulihat tidak ada sama sekali yang mengacungkan tangan. “Siapa disini yang ingin jadi pengusaha?” Aku buru-buru mengacungkan tanganku. Semoga menjadi kenyataan.

“Senang itu cobaan; susah juga cobaan!” Pengantarnya. “Jangan pernah patah; saat gagal dan kesulitan!” Itu petuahnya. “Jatuh; bangkit lagi! – jatuh;bangkit lagi!” Begitu ia mengulanginya. Sungguh memotivasi siapa saja yang mendengarnya. Ibarat bayi yang sedang berjalan; tidak akan menyerah; tidak akan kalah.

“Jika gagal; lalu mengurung diri di tempat gelap; jangan pernah sekali-kali!” Petuahnya penuh dengan perumpamaan. “Kalau berdiri di tempat gelap; bayangan saja akan menghindar; apalagi kawan!” Jelasnya. “Matahari masih bersinar; membawa energi kehidupan; jangan takut pada matahari; apalagi laki-laki!” Ia bercanda kepada peserta mahasiswi.

“Hari ini persaingan bukan lagi antar perusahaan; tapi antar manusia yang saling berkompetisi” jelas penyuka karate ini.

“Meski sedang asik wakuncar (wajib kunjung pacar) tapi harus segera pulang!” beliau memang menempatkan disiplin waktu diurutan pertama. “besoknya saya latihan karate!”

“Kalau kita berpikir; berpikirlah yang besar; karena waktu kita hanya 24 jam!”

Suatu saat ia meminta pada ayahnya sejumlah uang untuk membayar hutang, “Tapi jangan bilang-bilang sama ibu!” Ayahnya lalu ketawa terbahak-bahak. Abu rizal muda bingung kenapa ayahnya tertawa; bukannya membantu dan terharu. Lalu ayahnya bilang; “Orang yang tidak pernah gagal; tidak pernah berhasil!”

Memang kegagalan adalah keberhasilan yang tertunda!-pen. Ide bisnis itu tidak hanya dimulai dari uang. Beliau pernah menjadi orang termiskin; lebih miskin dari pengemis manapun. Ia pernah berbisnis baju dengan designnya sendiri bertuliskan ITB di depan lalu di punggunnya bertuliskan “Idaman Tjewek Bandung”

Kita hadapi!; Jangan pernah menghindari masalah!; Hadapi!; dan cari jalan keluarnya! Kita pikirkan apa yang masih bisa kita lakukan! “Kita tidak akan miskin dengan membayar hutang!”

Bisnis masa depan ada dalam singkatan FEW (Food; Energi dan Water). Kalau mau berbisnis; jangan berpikir mulai dari uang. Kenapa ia berbicara seperti ini? tidak lain dan tidak bukan agar semua orang terinspirasi sebagiaman cerita tentang columbus;

Suatu saat columbus bertaruh pada kawan-kawannya untuk mendirikan telur; semua orang mencoba tapi gagal; mencoba lagi tapi gagal; lalu giliran columbuslah pada akhirnya ia membelah telur tersebut dab menumpuk dibelahan yang lainnya. Akhirnya terlur bisa berdiri. “kalau begitu saja saya juga bisa!” kata kawan-kawannya!

Ya. Itulah yang Aburizal Bakrie lakukan hari ini; ia ingin kita juga mengatakan kata positif itu “kalau begitu saja saya juga bisa!”

Ia juga diminta salah satu koran daerah untuk memberi sambutan dalam tulisan orang-orang daerah yang berhasil dari nothing sampai something. Dan beliau inginkan agar mereka-mereka (orang inspiratif itu) bisa juga berseminar sebagaimana dirinya di auditorium Universitas Galuh ini agar dapat menyebar virus-virus positif pada mahasiswa dan generasi muda. Mencapai sukses kehidupan: ada keberanian; ada ide. Keberanian untuk jalan dan bergerak!

Sebuah kata terakhir sebelum sesi photo bersama peserta seminar dia membubuhkan suatu perumpamaan (lagi): “bila tiba malam; jangan mengeluh pada gelapnya malam; tapi ciptakanlah pelita untuk menerangi semesta”. “Nyalakan pelita mu sendiri!”

Terimakasih kepada Fitria yang sudah bersedia mengundangku ke seminar ini.


-
29 Mei 2012. Auditorium Universitas Galuh Ciamis
Pemerhati seminar agus sutisna
Designed by iconicbestiary / Freepik

5.2.20

Notes Seminar Pendidikan : Membangun Profesionalisme Guru : Guru Paud Dibayar “Sajuta”


Mendidik anak-anak tidak sama dengan mengarahkan ikan untuk berenang. Tidak sama dengan mengajari burung terbang. Anak-anak sangat tak terkendali bahkan tak terduga. Setiap anak itu berbeda. Satu yang bisa menyatukan mereka adalah bermain bersama.

“Guru itu musti ikhlas; ikhlas dalam mengajar dan ikhlas dalam menjaga profesionalismenya. Guru yang tidak ikhlas sama sekali tidak akan membentuk anak-anak berkarakter.” Pemateri UPTD memberikan pemaparan tentang profesionalisme dalam mengajar dan mengabdi pada Pendidikan. “Jangan sampai datangnya ke sini hanya untuk mendapatkan sesuatu dan atas sesuatu, misalnya tunjangan, paksaan dan perintah saja. Tapi niatkanlah untuk mendapatkan pengetahuan baru.”

“Ada 5 dari 153 guru yang mendapatkan dana dari gubernur. Lumayan buat membeli seragam-seragam mah!” Katanya. Sedangkan dana ini hanya diberikan setahun sekali. “Ini bukan pencitraan atau politik!” Katanya lagi.

“Dana seperti ini sebisa mungkin untuk mencerdaskan diri sendiri. Belilah laptop! Belilah modem! Dan lanjutkan sekolahnya!” Tambahnya lagi.

Untuk mendapatkan tunjangan ini harus lebih dulu mendapatkan NUPTK. Sedangkan untuk mendapatkan NUPTK bisa dikatakan sulit. Beberapa dari guru yang didominasi oleh kaum perempuan ini saling berbisik tentang susahnya mendapatkan NUPTK.

Materi yang saya tuliskan memang tidak semuanya tertera disini, ada beberapa factor diantaranya audio yang kurang nyaman di telinga. Jadi sebagian materi didapatkan dari forum diskusi dan catatan kecil.

“Minggu ini ada seminar mainan edukatif. Lumayan bisa mempercepat intensif!” Salah satu tutor memberikan informasi kepada semua guru. Beberapa orang berpendapat jika sertifikat itu ada kadaluarsanya maksimal 3 tahun. Maka dari itu setiap ada pelatihan dan seminar tutor harus siap sedia. Siap dana dan siapin waktunya.

Jika dahulu guru TK dan PAUD itu dibedakan sekarang semua disatukan dalam satuan PAUD (Pendidikan Anak Usia Dini). Jika ada guru yang mengatakan ia bekerja di PAUD X. “Dia keliru. Belum paham!” Papar pemateri. “Harusnya dia mengatakan nama satuannya: TK, RA, Kober atau yang lainnya.” Jelasnya lagi.

“Niatkan menjadi guru adalah untuk mencerdaskan anak bangsa. Itu adalah profesi mulia. Kelak anak didik kita menjadi orang. Maka kita jualah yang bangga”

Salah satu yang menyurutkan semangat juang mendidik adalah upah yang tidak sesuai. Mungkin mengajar anak-anak tidak dengan derasnya keringat, tapi ancaman mental dari suasana kelas, pengendalian anak-anak bahkan orang tua murid menjadi ancaman serius bagi seorang guru.

Orang tua kadang memang menjadi tantangan sendiri bagi guru. Berbagai tuntutan malah banyak muncul dari orang tua. Misalnya ia ingin pindah dari salah satu sekolah karena di sekolah itu anaknya tidak ada perkembangan dalam membaca atau menulis. Padahal tingkat pendidikan usia dini hanya diajarkan pengenalan huruf dan angka saja. “Belum saatnya anak sedini itu dijejali hitungan dan bacaan yang memberatkan.

“Jangan pula seorang guru terlena dan terjebak atas tuntutan orang tua yang menginginkan anaknya pandai membaca dan menghitung!”

Memang seringkali terjadi di sekitar kita jika anak yang pandai membaca dan menghitung saat usia dini adalah harapan terbesar bagi orang tua. Tapi menurut ahli psikologi dan perkembangan anak hal itu sama sekali tidak dianjurkannya.

“Biarkan masa-masa golden age itu dinikmati anak-anak dengan mengaktifkan otak kanan.” Saya pernah mendengar kalimat tersebut dari suatu pelatihan. “Kegiatan mewarnai hanya akan membangkitkan otak kiri anak saja!” Tambahnya. “Kegiatan menggambar dalam kertas kosong malah lebih baik dari pada mewarnai, karena aspek sinaps dari kedua otak akan saling bersentuhan!”

Bukan sekedar kabar burung ketika alumni dari Program Studi Keguruan dan Pendidikan malah berpindah haluan pada bidang lain yang lebih menjanjikan masa depan. BANK misalnya. Kadang pula hanya niat ingin mendapatkan titel sarjana saja.

“Jangan menyerah meski dibayar 75 ribu, 25 ribu, 15 ribu atau tidak sama sekali!” Papar pemateri.

Pelatihan itu cukup membuat jantung saya berusaha keras berdetak. Ternyata menjadi seorang guru itu suatu amanah yang sangat besar. Generasi selanjutnya ada di tangan kami para guru. Generasi yang akan menjadi besar dengan sentuhan pendidikan yang benar dari dasar.

Langkah-langkah kami tetap menginjak tanah dan tidak terbawa arus pusaran angin yang mengiming-imingi harta dan kedudukan. Meninggalkan anak-anak demi kekayaan sesaat sangatlah tidak patut digugu. Padahal kesempatan diluar sana sangat besar bagi kami untuk meraup uang dan kekayaan. Terkadang ada yang nyeletuk berkata, “Kenapa tidak pindah saja dan cari pekerjaan yang sesuai dan bermasa depan?”

Saat kelas-kelas tidak ada gurunya. Sedangkan anak-anak pukul tujuh sudah ada di dalam ruangan, menunggu gurunya datang. Siapa yang akan mengajarkannya mengenal hitungan? Siapa yang akan menceritakannya dongeng penghantar? Siapa yang akan mengajarkannya sembahyang? Anak-anak itu tetap menunggu di dalam ruangan sampai gurunya datang. Lalu siapa yang tidak tega dengan semua ini? Sedangkan guru PAUD hanya dibayar “SaJuTa” (Sabar, Jujur, dan Tawakal)!


--
Pemerhati Seminar : Agus Sutisna
14 Januari 2013. 
Bertempat di SDN 2 Kujang. 
Artikel ini pernah di publish di kompasiana.com/agussutisna
Design Gambar Sampul oleh Freepik

30.1.20

Notes Seminar dan Workshop : 'Jualan Online Zaman Now'


Kali ini saya berkesempatan untuk menghadiri Seminar E-Commerse atas undangan perwakilan dari kampus STT YBSI. Peserta dibatasi dan rata-rata mereka yang sudah berkecimpung didunia marketing baik online maupu offline. Tanpa mengurangi rasa hormat dan rasa ingin berbagi kepada orang lain terutama pihak kampus, aku sudah siap mencatat apa-apa saja yang telah dipaparkan. Sebenarnya ada banyak pemateri pada hari itu, dimulai pukul delapan pagi sampai pukul enam belas sore. Tapi aku hanya berhasil mencatat dua pemateri, sementara yang lainnya tidak tercatat. Tapi sedikit ingat tentang materinya. Nanti saja ya di postingan berikutnya.

Pemateri 1 : Dari Dinas Perdagangan dan Industri (Wirausaha — Broken Business & Broken Windows)


Jatuhnya perusahaan karena perilaku manusia yang tidak mau mempedulikan akan saran dari orang lain. Ibarat rumah seseorang yang diteriaki tetangga jika ada jendela kaca rumah yang pecah; sementara si empunya rumah adem-adem saja. Hingga akhirnya jendela yang rusak itu menjadi cara si pencuri membabat habis perusahaannya; mencuri resep atau ide. Hingga benar-benar gulung tikar.

Kebiasaan orang Tasikmalaya yang berbisnis tidak akan lama hanya dua atau tiga bulan, kenapa, karena setiap ada produk baru misalnya Seblak, maka semua orang akan meniru. Nah itulah yang dinamakan teori Broken Businnes & Broken Windows. Pecah ini bisa dari sisi kesehatan atau kebersihan. Misalnya ketika membeli baso di salah satu ruko, seorang pelanggan melihat seekor tikus berjalan-jalan di atap ruko. Ia mengira jika pasti daging bakso dari tikus. Hingga ia menyebarkannya pada orang lain. Itulah akibat dari gosip.

Menurut beliau, salah satu kendala pebisnis adalah :

1. Perilaku ; saat mental tidak kuat.
Contohnya ketika mendapatkan dana KPR atau pinjaman dari Bank, alih-alih untuk menggunakan sebagai modal malah digunakan untuk mencicil rumah, mobil dan sebagainya. Biasanya ini pengaruh dari lingkungan dan lingkungan paling dekat adalah suami/istrinya. Hingga akhirnya ia hanya menggunakan 2 % dana dari jumlah keseluruhan. Sudah pasti bisnisnya tidak akan maju.

Maka dari itu jangan mengedepankan keinginan/gaya hidup.

2. Pesaing dan peniru.
Seperti yang diceritakan di awal, keterlambatan pebisnis adalah kaku dengan bisnisnya. Tidak menciptakan ciri khas dan melengkapi apa yang kurang; sehingga jangan marah jika ada pebisnis lain yang mencuri perhatian pelanggan.

Modal terpenting dari sebuah wirausaha/berdagang adalah kejujuran. Dengan menceritakan pengalaman sendiri pembicara mencontohkan saat ia berdagang kain, awalnya ia berdagang dengan ukuran kain 1 meter tiga puluh. Dan karena pelanggan banyak lalu omset naik terus; ia terlena sehingga mengurangi meteran. Alhasil perusahaan besar yang menjadi rekan kerjanya membatalkan kerja sama. Yang salah siapa. Kita sendiri, karena tidak mau bersikap jujur. Produk itu bukan dikurangi tapi dilebihkan dari sisi kualitas dan kuantitas. Pelanggan tidak akan merengek jika pun harganya naik; asal bahan/kualitasnya tetap dinikmati.

“Jangan mengurangi selera/rasa pelanggan.” Itu intinya.

Pemateri 2 : ‘Pengembangan Produk di Media Sosial’


Materi ini disampaikan oleh salah satu divisi Shopee yang bertugas dalam mengembangkan UMKM. Dari berbagai data yang ia tunjukkan; disimpulkan jika populasi orang Indonesia itu paling banyak pengguna internet. Dan dari pengguna itu mereka memakai ponsel. Dan ini peluang besar bagi siapa pun yang ingin mengembangkan bisnis/brand. Tidak lain adalah dengan cara tanggap dengan teknologi. Begitu pun Shopee. Eit, ini bukan iklan ya. Kebetulan saja acara itu disponsori oleh Shopee dan materinya cukup bagus.

Kita ambil manfaatnya saja dari setiap pemateri. Mencari ilmu bisa dari mana saja, kan? Masih dari data tersebut perusahaan e-commerce itu membuat aplikasi yang menyatukan Marketplace, Mobile dan Media Social. Yup, itu ide hebat! Dan semua tahu jika orang Indonesia terkenal ramah; sampai-sampai di media social pun kita lebih suka ber-chat daripada membuat informasi yang akurat. Hihi ..

Penulis jadi kepikiran; sejak bergabung di Facebook pada tahun 2009, dipakai buat apa saja? — Itu pertanyaan retorika saja. Penulis manggut-manggut.

Dalam berbisnis niatkan untuk membantu perekonomian keluarga dan masyarakat sekitar. Jadi bukan untuk kaya seorang diri. Betul ga? Aku sih manggut-manggut saja. Betul juga kita harus punya niat mengembangkan usaha sehingga bisa merekrut karyawan di lingkungan sekitar. Kita bisa memberantas kebodohan; kemiskinan dan ketertinggalan dengan berbisnis. (itu pemikiran penulis saat mendengarkan orang itu bicara. Dalam konteks ini bisa saja penulis melamun sehingga kurang konsentrasi dengan materi pembicara.)

Orang Indonesia setidaknya mempunyai tiga alasan mengapa ia mau membeli; yang pertama adalah visual. Yup, tampilan depan. Tampilan kemasan. Tampilan display. Mereka suka dengan apa yang dilihatnya. Kedua Biaya/ harga. Diskon sedikit saja akan dikejar; apalagi kaum perempuan. Hihi.. Ketiga kepercayaan. Yup, lagi-lagi soal pondasi kejujuran. Poin terakhir ini adalah alasan mengapa pembeli datang lagi dan datang lagi.


Kekuatan Visual
Tips agar tampilan display di toko online atau media social adalah foto yang menarik dan berlatarkan warna putih bagi produk yang berwarna. Atau hitam sekalian agar terkesan elegan. Dan untuk foto perhatikan : penerangan (lighting); produk dengan perbadingan; fokus satu barang; ambil foto dari berbagai sudut; sesuaikan background dengan kebutuhan.

Kenali Pelanggan

Kenali konsumen kita dari jenis kelamin, usianya, statusnya, masalah utama; dan solusinya. Oh iya ada beberapa tahap seseorang bisa menjadi pembeli; dan seorang pembeli menjadi pelanggan.
1. eksplorasi di media social; Kasih tahu tetangga; kasih tahu teman dan kerabat; apa sih produk yang kita jual.
2. Namai produk kita dengan menarik.
3. Coba ilustrasikan kegunaan produk.
4. Bandingkan keunggulan produk anda dengan produk orang lain.
5. jelaskan produk secara rinci.
6. gunakan diskon dan keterbatasan stok.
7. buatlah informasi peraturan dan poting pembeli sehingga menciptakan kepercayaan dan pelanggan merasa bangga membeli produk kita.

Cukup untuk hari ini semoga bisa saling mengisi informasi.Jangan lewatkan Notes lainnya hanya di Kantorbos (Tidak hanya sekedar mengirim surat)

--

Tasikmalaya, 14 Agustus 2018, Hotel Santika Tasikmalaya

(Ditulis kembali oleh Agus Sutisna, 
perwakilan Kampus STT YBS Internasional Tasikmalaya)

Design Sampul by Freepik

29.1.20

Notes Materi 'Future of Work' : Seminar Kampus 'Teknologi Zaman Now'

Perubahan Paradigma di Era Disruption


Perubahan tidak dapat dihindari; semakin hari dunia teknologi makin melesat. Para produsen berbondong-bondong meluncurkan tipe handphone terbarunya; dan para konsumen berbondong-bondong pula dengan hasrat memiliki semuanya.

Orang-orang kreatif dan menguasai teknologi membuat suatu era baru yang menggantikan era sebelumnya. Kita semua tahu jika taksi konvensional mulai tergerus bahkan hilang oleh kehadiran taksi online. Itu hanya contoh besar saat yang mapan merasa terganggu. Dan akhirnya tergantikan.

Menurut Prof Rhenald Kasali, seorang pakar ekonomi mengatakan jika banyak yang hanya menganggap Disrupsi ini hanya di bidang Teknologi Informasi dan Komunikasi (ICT), tidak hanya itu bahkan pergeseran fungsi ini bukan hanya dalam bidang teknologi tapi merambah ke bisnis, pendidikan, kesehatan dan lainnya.

Dalam artikel yang ditulis dalam Rumah Perubahan, Prof Rhenald Kasali memberi rangkuman bagaimana kita menghadapi bahkan menanggapi perubahan ini. Pertama : Jangan nyaman menjadi ‘pemenang’. Terkadang kalau suatu perusahaan atau personal merasa sukses, sedikit sekali ia belajar kembali. Padahal generasi Milenial sedang menunggu time kapan mereka akan mendobrak perubahan. Kedua : Jangan Takut Mengkanibaliasasi Produk Sendiri, tidak salahnya jika suatu perusahaan membuat sesuatu yang berbeda dari produk sebelumnya. Dari konvensional ke digital misalnya; Ketiga : Membentuk Ulang atau Menciptakan yang Baru, ada dua cara yaitu melakukan Reshape (membentuk kembali) atau Create (mencipta) Lakukan inovasi dengan membaca situasi.

Selain dari perubahan tersebut perusahaan sekarang sudah melakukan yang namanya kerja bareng; jadi pemilik perusahaan bukan hanya satu orang saja; tapi sudah berbagi dengan orang lain. Atau tempat kerja yang bisa digunakan oleh beberapa perusahaan; sekarang sudah mulai nampak. Disana ada persaingan sekaligus ada peluang besar untuk bekerja sama. Karena dimana ada persaingan disitu lahan sangat menggiurkan.
Singa berada tidak jauh dari kerumunan Rusa.
Jadi apapun perubahan itu dan bagaimana pun perubahan itu; jangan sampai kita tergerus. Kita hanya punya dua pilihan; jadi pelaku atau korban; jadi pemain atau penonton; semudah itu kita memilih keputusan. Mau jadi seperti apa kamu?

Pergeseran Manusia oleh Mesin


“Mama, bila aku besar, nanti aku bekerja dimana?” Mungkin perkataan itu yang akan terlontar suatu hari nanti.

Perubahan teknologi yang telah dibahas sebelumnya menimbulkan konflik dan kekhawatiran karena akan ada beberapa pekerjaan yang hilang. Yup, Mesin menggantikan otot manusia. Dimana sekarang (maaf) kuli angkut di pelabuhan sudah digantikan oleh Crane dan Froklift, bahkan industri perfilman akan banyak kehilangan awak karena mereka bisa membuat film sendiri tanpa bantuan produsen. Mereka dengan mudahnya memasang film di youtube atau lewat Netflix.

Pekerjaan Yang Akan Hilang Karena Pergeseran Perkembangan Teknologi

Berdasarkan sumber artikel dari kompas tekno dan economy okezone berdasarkan analisis galssador situs pencari kerja, ada beberapa jenis pekerjaan yang terancam bahkan mulai tergerus karena mesin; diantaranya Teller bank mulai tergantikan oleh adanya mesin ATM (Anjungan Tunai Mandiri), mau pagi atau malam sekalipun kita langsung bisa mentransfer atau mengambil uang tanpa minta bantuan atau konsultasi dengan teller bank.

Kasir supermarket, di kota Negara maju atau mungkin beberapa kota besar sudah menggunakan mesin penjual. Resepsionis, bahkan di gawai kecil sekalipun sudah dilengkapi mesin penjawab atau system asisten virtual. Malah di Negara maju seperti Jepang sudah mulai digantikan dengan robot sungguhan.

Mungkin kamu pernah mengalami masa dimana kita bisa iseng memanggil operator telepon dan kartu GSM, kapan pun. Bahkan pegawainya sangat banyak untuk menjawab keluhan pelanggan. Dan sekarang sudah mulai diterapkan mesin penjawab otomatis.

Tukang Pos, mulai digantikan dengan email atau media sosial. Kapan dan dimanapun kita bisa saling mengirim tulisan, gambar, suara atau video dengan orang yang jauh. Selanjutnya Agen perjalanan, sudah mulai banyak iklan mengenai situs yang menyediakan jasa hotel, penginapan, wisata dan jalan-jalan.

Juru ketik, sudah tidak usah lagi mengambil notulen dan pencatat karena dengan bantuan software pengenal suara, suara kita akan diolah menjadi kata-kata dalam tulisan. Semudah itu. Reporter pun mulai tergeser dengan adanya blogger, media online dan netizen yang sudah siap dimana pun memberikan informasi dan kejadian saat itu juga. Bahkan lebih cepat. Maka mulailah satu demi satu perusahaan tabloid, Koran, majalah yang tutup lembaran, hilang atau berpindah ke digital.

Petugas loket tol, sudah digantikan dengan mesin. Yang paling dekat adalah mesin parkir Mayasari Plaza sekitar kampus; dari awalnya ada enam yang berjaga di pintu masuk dan keluar, sekarang hanya tinggal dua pintu keluar yang dijaga manusia.

Pencetak foto sudah digantikan dengan adanya fitur instamini di gawai kita; secukup itu kita bisa menikmati perubahan mungkin saja akan menggerus perkejaan kita. Tapi kita masih menikmatinya kan?

Bahkan konon, penerjemah mulai tergerus dengan adanya google pixel budy dan google asisten. Bahkan dosen-dosen dianalisis akan kehilangan jam mengajarnya karena suatu hari nanti kampus akan diselenggarakan semacam EO dimana para ahli di berbagai bidang akan ikut andil sebagai pembicara dan lewat online. Jangan jauh-jauh peran bimbingan belajar pun mulai digerus dengan adanya bimbel online.

Peran Kita Selaku Individu

Selesaikah kita? Apa yang harus kita lakukan? — Sesuai yang disampaikan oleh ketua STT YBSI Tasikmalaya, Dewanto Rosian Adhy, kita hanya tinggal memilih, mau jadi pelakon atau korban. Mau jadi pemain atau penonton.

Ingatlah kehadiran robot atau mesin ini adalah untuk membantu pekerjaan manusia; melakukan pekerjaan yang susah bahkan membahayakan jiwa. Contohnya penjaga tol, mereka justru diselamatkan dari bahaya asap kendaraan.

Rhenald Kasali, seorang pakar ekonomi menjelaskan jika Pekerjaan lama tidak akan hilang, tapi akan tumbuh pekerjaan baru yang mungkin kini kita dengar seperti Barista, Blogger, Web depeloper, app creator/developer, Social entrepreneur, fashionista and ambassador, smart animator, game developer, kewirausahaan, bisnis online dan lain-lain. Jadi jangan khawatir, selagi kita menguasai teknologi dan peduli dengan lingkungan sekitar. Pekerjaan baru akan tercipta dengan sendirinya.

“Saatnya melakukan pilihan terhadap peran yang akan diambil dalam menghadapi revolusi industri 4.0" - Dewanto Rosian Adhy.

--

Ditulis kembali oleh Agus Sutisna, dari rangkuman seminar Teknologi Zaman Now, pembicara Dewanto Rosian Adhy | STT YBSI | Tweening | B-One | IoT Kosorsium | TUK Buana, yang diselenggarakan oleh kampus STT YBS Internasional Tasikmalaya, pada Hari Sabtu, 21 Juli 2018 (Seminar pertama) dan Sabtu 11 Agustus 2018 (Seminar kedua)
#SeminarTeknologi STT YBS Internasional

--
Desain Sampul oleh pikisuperstar / Freepik