5.2.20

Notes Seminar Pendidikan : Membangun Profesionalisme Guru : Guru Paud Dibayar “Sajuta”


Mendidik anak-anak tidak sama dengan mengarahkan ikan untuk berenang. Tidak sama dengan mengajari burung terbang. Anak-anak sangat tak terkendali bahkan tak terduga. Setiap anak itu berbeda. Satu yang bisa menyatukan mereka adalah bermain bersama.

“Guru itu musti ikhlas; ikhlas dalam mengajar dan ikhlas dalam menjaga profesionalismenya. Guru yang tidak ikhlas sama sekali tidak akan membentuk anak-anak berkarakter.” Pemateri UPTD memberikan pemaparan tentang profesionalisme dalam mengajar dan mengabdi pada Pendidikan. “Jangan sampai datangnya ke sini hanya untuk mendapatkan sesuatu dan atas sesuatu, misalnya tunjangan, paksaan dan perintah saja. Tapi niatkanlah untuk mendapatkan pengetahuan baru.”

“Ada 5 dari 153 guru yang mendapatkan dana dari gubernur. Lumayan buat membeli seragam-seragam mah!” Katanya. Sedangkan dana ini hanya diberikan setahun sekali. “Ini bukan pencitraan atau politik!” Katanya lagi.

“Dana seperti ini sebisa mungkin untuk mencerdaskan diri sendiri. Belilah laptop! Belilah modem! Dan lanjutkan sekolahnya!” Tambahnya lagi.

Untuk mendapatkan tunjangan ini harus lebih dulu mendapatkan NUPTK. Sedangkan untuk mendapatkan NUPTK bisa dikatakan sulit. Beberapa dari guru yang didominasi oleh kaum perempuan ini saling berbisik tentang susahnya mendapatkan NUPTK.

Materi yang saya tuliskan memang tidak semuanya tertera disini, ada beberapa factor diantaranya audio yang kurang nyaman di telinga. Jadi sebagian materi didapatkan dari forum diskusi dan catatan kecil.

“Minggu ini ada seminar mainan edukatif. Lumayan bisa mempercepat intensif!” Salah satu tutor memberikan informasi kepada semua guru. Beberapa orang berpendapat jika sertifikat itu ada kadaluarsanya maksimal 3 tahun. Maka dari itu setiap ada pelatihan dan seminar tutor harus siap sedia. Siap dana dan siapin waktunya.

Jika dahulu guru TK dan PAUD itu dibedakan sekarang semua disatukan dalam satuan PAUD (Pendidikan Anak Usia Dini). Jika ada guru yang mengatakan ia bekerja di PAUD X. “Dia keliru. Belum paham!” Papar pemateri. “Harusnya dia mengatakan nama satuannya: TK, RA, Kober atau yang lainnya.” Jelasnya lagi.

“Niatkan menjadi guru adalah untuk mencerdaskan anak bangsa. Itu adalah profesi mulia. Kelak anak didik kita menjadi orang. Maka kita jualah yang bangga”

Salah satu yang menyurutkan semangat juang mendidik adalah upah yang tidak sesuai. Mungkin mengajar anak-anak tidak dengan derasnya keringat, tapi ancaman mental dari suasana kelas, pengendalian anak-anak bahkan orang tua murid menjadi ancaman serius bagi seorang guru.

Orang tua kadang memang menjadi tantangan sendiri bagi guru. Berbagai tuntutan malah banyak muncul dari orang tua. Misalnya ia ingin pindah dari salah satu sekolah karena di sekolah itu anaknya tidak ada perkembangan dalam membaca atau menulis. Padahal tingkat pendidikan usia dini hanya diajarkan pengenalan huruf dan angka saja. “Belum saatnya anak sedini itu dijejali hitungan dan bacaan yang memberatkan.

“Jangan pula seorang guru terlena dan terjebak atas tuntutan orang tua yang menginginkan anaknya pandai membaca dan menghitung!”

Memang seringkali terjadi di sekitar kita jika anak yang pandai membaca dan menghitung saat usia dini adalah harapan terbesar bagi orang tua. Tapi menurut ahli psikologi dan perkembangan anak hal itu sama sekali tidak dianjurkannya.

“Biarkan masa-masa golden age itu dinikmati anak-anak dengan mengaktifkan otak kanan.” Saya pernah mendengar kalimat tersebut dari suatu pelatihan. “Kegiatan mewarnai hanya akan membangkitkan otak kiri anak saja!” Tambahnya. “Kegiatan menggambar dalam kertas kosong malah lebih baik dari pada mewarnai, karena aspek sinaps dari kedua otak akan saling bersentuhan!”

Bukan sekedar kabar burung ketika alumni dari Program Studi Keguruan dan Pendidikan malah berpindah haluan pada bidang lain yang lebih menjanjikan masa depan. BANK misalnya. Kadang pula hanya niat ingin mendapatkan titel sarjana saja.

“Jangan menyerah meski dibayar 75 ribu, 25 ribu, 15 ribu atau tidak sama sekali!” Papar pemateri.

Pelatihan itu cukup membuat jantung saya berusaha keras berdetak. Ternyata menjadi seorang guru itu suatu amanah yang sangat besar. Generasi selanjutnya ada di tangan kami para guru. Generasi yang akan menjadi besar dengan sentuhan pendidikan yang benar dari dasar.

Langkah-langkah kami tetap menginjak tanah dan tidak terbawa arus pusaran angin yang mengiming-imingi harta dan kedudukan. Meninggalkan anak-anak demi kekayaan sesaat sangatlah tidak patut digugu. Padahal kesempatan diluar sana sangat besar bagi kami untuk meraup uang dan kekayaan. Terkadang ada yang nyeletuk berkata, “Kenapa tidak pindah saja dan cari pekerjaan yang sesuai dan bermasa depan?”

Saat kelas-kelas tidak ada gurunya. Sedangkan anak-anak pukul tujuh sudah ada di dalam ruangan, menunggu gurunya datang. Siapa yang akan mengajarkannya mengenal hitungan? Siapa yang akan menceritakannya dongeng penghantar? Siapa yang akan mengajarkannya sembahyang? Anak-anak itu tetap menunggu di dalam ruangan sampai gurunya datang. Lalu siapa yang tidak tega dengan semua ini? Sedangkan guru PAUD hanya dibayar “SaJuTa” (Sabar, Jujur, dan Tawakal)!


--
Pemerhati Seminar : Agus Sutisna
14 Januari 2013. 
Bertempat di SDN 2 Kujang. 
Artikel ini pernah di publish di kompasiana.com/agussutisna
Design Gambar Sampul oleh Freepik
Comments

2 tanggapan

Kalau kata orang rumah sih, jadi guru sekarang tuh bukan lagi idaman selayaknya jaman dulu. Guru udah terlalu banyak, namun guru tetaplah pahlawan tanpa tanda jasa, sekian panjang perjalanan hidup saya pribadi pun tak lepas dari sumbangsih guru, baik guru secara umum, maupun guru tidak formal sekalipun


EmoticonEmoticon